Menarik! Anak-anak itu tampil penuh dengan percaya diri. Beda sekali dengan saya waktu kecil. Takut melihat orang banyak, takut berbicara, takut berdiri depan kalaupun harus tampil di depan semua itu hasil paksaan guru, orangtua atau tampil beramai-ramai dengan teman-teman. Begitulah! Anak-anak itu tak peduli jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyanyi. Mungkin tujuan mereka untuk menyanyi adalah mengasah keberanian kendati suara mereka tak mendukung untuk itu. Saya sepakat.
Sayangnya, saya merasa terganggu dengan cara mereka berbusana juga polesan warna yang melekat di wajah mungil itu. Saya merasa itu bukan mereka. Mereka jauh lebih tua dari seharusnya. Mereka menghilangkan usia atau dunia yang seharusnya mereka nikmati. Bahkan mengenggam dunia lain yang belum pantas mereka masuki. Akibat polesan itu, menurut saya, mereka tidak tampil seperti yang seharusnya mereka. Jika adapun warna yang dibubuhkan pada wajah, mengapa mereka tidak dibiarkan tumbuh dengan tampilan seusia mereka?
Buru-buru saya meralat benak saya itu. Pada umumnya anak-anak itu didampingi oleh orangtua mereka. Sayapun berpikir nakal. Jangan-jangan polesan make up itu sebab orangtua mereka mendandani anak-anak itu agar tampil “cantik” menurut versi para orangtua. Ah…mereka sudah cantik menurut saya. Biarlah mereka hidup dalam apa adanya dunia mereka. Karena itu jejak hidup yang sempurna miliki. Allah sudah memberikan kita masa untuk hidup dengan “normal” pada ketika merasai suatu usia. Lalu mengapa harus ada sentuhan warna yang tak ideal di wajah seusia belia mereka pada saat tak seharusnya.
Di sebuah sudut Mall bilangan Jakarta Pusat, saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak di sebuah toko bersama orangtua mereka dan pengasuhnya dengan pakaian seragam yang ada. Lucunya anak-anak itu. Saya buru-buru mendekati dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan mereka. Menicure dan Pedicure! Tuhan, …ternyata anak-anak itu sedang diajari untuk menjadi cantik dan menarik. Sebuah pertanyaan menyerobot dalam alam sadar saya. Untuk apa?
Saya jadi ingat kontes-kontes kecantikan yang ada atau sekolah-sekolah untuk mencari bakat untuk menjadi artis-artis atau peragawati di arena catwalk. Apakah mereka ingin mendidik atau dididik untuk menjadi artis atau peragawati itu? Apakah salah? Oh tidak! Itu pilihan seseorang. Saya sedang tak menyalahkan orang lain. Para ibu-ibu itu dan juga anak-anak kecil itu sangat berhak untuk menentukan hidup yang bagaimana kelak mereka pilih. Tapi haruskan itu menjadi tujuan pada saat usia yang begitu belia? Pada saat mereka harus lebih dahulu mengenali yang lebih penting sebelum memilih manicure dan pedicure?
Saya lebih senang dengan istilah menjadi bersih. Bukankan bersih memiliki standar yang lebih jelas daripada menjadi cantik dan menarik. Makna cantik tentulah bergantung siapa yang memandang. Tak ada definisi khusus tentang cantik dan juga menarik. Cantik dan menarik adalah dua kosakata yang begitu diminati oleh banyak orang. Cantik dengan artian kulit berwarna putih, tinggi semampai, dengan ukuran tubuh yang proporsional. Menarik juga memiliki definisi yang berbeda untuk diartikan lebih lanjut.
Dalam mencari pekerjaan, banyak profesi yang menentukan syarat berupa berpenampilan menarik. Tak jelas memang maksud menarik. Namun semua orang tahu bahwa tak mungkin melamar pekerjaan itu bilang tak masuk kategori menarik itu walaupun memiliki kemampuan yang cerdas. Semua itu akan gugur bila tak memiliki bakat berpenampilan menarik. Pada banyak situasi, seringkali tidak merasa percaya diri jika tidak cantik atau tidak memiliki berat dan tinggi badan yang ideal. Lalu siapa yang mengajari semua ini?
Seharusnya rasa tidak percaya diri muncul bilamana kita tidak tampil cerdas, tidak disiplin, tidak menunaikan pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Kursus-kursus kepribadian menjadi pilihan banyak orang untuk belajar etika dan etiket. Lalu dimana materi yang disajikan di ruang kelas selama ini? Apakah materi tentang etika dan etiket tidak diterima sepanjang pendidikan sekolah? Atau lingkungan sekitar tempat kita memang telah melunturkan persoalan itu? Sehingga untuk mempelajari etika dan etiket di sekolah-sekolah kepribadian dengan standar-standar yang sulit dicerna oleh budaya sendiri?
Di sebuah kota kecil di luar sana, tempat dimana saya menghabiskan waktu saya selama dua tahun, saya menandai jadwal-jadwal story-telling di pustaka umum yang tak jauh dari apartemen saya. Di situ saya berjumpa dengan para orangtua yang membawa anak mereka untuk membaca, meminjam atau menikmati kegiatan di pustaka itu. Atau saya juga berjumpa dengan sekelompok anak SD yang sedang didampingi oleh guru mereka untuk menghabiskan sebagian dari waktu yang ada dalam seminggu untuk mengunjungi dan meminjam buku-buku di pustaka. Saya juga melihat anak-anak yang sedang homeschooling bersama orangtua mereka.
Saya rindu suasana itu di sekitar saya.
Terlepas dari kekurangan yang dimiliki dari negeri itu, tapi literasi menjadi pentingnya di tengah-tengah mereka.
Saya sedih melihat anak-anak berpenampilan tidak sewajarnya. Saya sedih mereka tidak bergaya dengan standar usia mereka. Sama sedihnya ketika melihat mahasiswa saya berpenampilan yang tak layak seorang mahasiswa dengan mengandeng tas kecil dengan nalar yang dangkal dan otak yang sempit. Masa bodoh lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar